Kamis siang itu aku bermaksud makan siang di sebuah rumah makan fast food
di sebuah mall di bilangan Kuningan. Saat aku mendekati rumah makan
yang aku tuju tiba2 HPku berbunyi ada sms masuk. Sambil membaca sms aku
berjalan memasuki rumah makan tsb. Sampai dipintu hampir saja aku
bertabrakan dengan 2 orang wanita ” Eit ! sorry ” kataku sa,bil menoleh sekilas ke arah mereka.
” Herry ?! ” salah seorang dari mereka menegurku. Akupun memandang salah seorang dari mereka yang berbadan besar, tingginya sekitar 170 cm, lebih tinggi dari aku yang cuma 165 cm, posturnya mirip penyanyi Denada hanya dia lebih putih, wajahnya tidak terlalu cantik.
” Hesti ?! ” aku setengah bertanya
” Ya, aku Hesti ” jawab si cewek tadi dan kamipun bersalaman ” Oh ya kenalin ini tante Rini adik papiku ”
” Herry ” kataku sambil menyalami wanita disamping Hesti yang berumur sekitar 45 tahin tapi kulitnya masih putih mulus.
Hari
Sabtu sekitar jam 9 pagi aku pamit istriku kalau aku mau kerumah teman.
Setengah jam kemudian aku udah didepan rumah tante Rini di daerah
Cipinang. Tidak lama setelah aku ketok2 pagar Hesti dengan mengenakan
celana jeans ketat berwarna hitam
dan kaos ketat berlengan 3/4 juga berwarna hitam, sehingga tubuhnya
yang gempal tapi sexy terbentuk jelas ditambah kulitnya yang putih
terlihat semakin putih dengan pakaian tersebut keluar membukakan pintu
dan kamipun duduk di ruang tamu.
” Kok sepi, mana tante Rini ama pembantu? ” tanyaku karena hanya Hesti yang dirumah.
” Oh dia lagi ke Bogor sama tetangga kalau disini ngga ada pembantu ” jawabnya. Kamipun ngobrol bernostalgia, maklum kami sudah sekitar 14 tahun ngga ketemu
“Ngomong2 berat badanmu naik berapa kilo Hes ?” tanyaku karena aku ngga bisa menahan rasa penasaran melihat perubahan bentuk tubuh Hesti.
” Dari masa SMA naik 12 kilo sekarang beratku 62 kg he..he..” jawabnya sambil ketawa lepas.
” Wow gile… untung kamu tinggi dan kamu rajin olah raga. tapi sekarang lebih kelihatan sangat sexy lho Hes ” pujiku
” Makanya suamiku ngga mau cari yang lain ” jawab Hesti
” Emang suamimu masih kuat lawan kamu di ranjang ? ” tanyaku memancing, karena aku tahu usia suaminya lebih tua 11 tahun.
” Kalau cuma seminggu sekali sih dia masih kuat cuma 2 tahun belakangan dia terkena diabetes makanya dia mulai jarang. Akunya yang sering pusing2, makanya aku sering marah2 sendiri. Terus terang saja Her terakhir kali kami berhubungan 3 minggu lalu itupun ngga tuntas karena dia ngga kuat. Dia sering begitu Her, tiba2 burungnya turun dan ngga bisa berdiri lagi, aku sering kasihan sama dia ” keluh Hesti .
” Ya itulah salah satu efek dari penyakit gula Hes, terus kamu sendiri bagaimana mengatasinya ? ” tanyaku
” Terpaksa aku sering masturbasi tapi lama2 bosan, Her kamu mau tolongin aku ngga Her ? ” tanya Hesti sambil duduknya pindah ke sofa panjang yang aku duduki.
“Kamu minta tolong apa Hes ?” aku balik bertanya
Hesti terdiam sejenak, dia meraih tangan kananku dan kemudian dicium, tiba2 dia memelukku “Kamu mau melakukan sama aku kan Her” bisiknya. Aku mengangguk dan terus memeluk Hesti sambil mencium pipinya. Sejenak kami perpandangan dan saling melemparkan senyum kemudian bibir kamipun berciuman “Puasi aku Her..” agak serak suara Hesti mengatakannya aku tidak menjawab hanaya tanganku membimbing tubuh gempal Hesti terlentang di sofa dan aku berlutut di sampingnya. Aku mulai mencium bibirnya sambil membelai rambutnya. Ciumanku bergeser ke arah belakang telinga Hesti dan aku menjilatnya lembut. ……ssssshhh….mulut Hesti mengeluaran desisan pelan sambil tangannya meremas2 lembut burungku yang mulai naik dari luar celana yang masih aku kenakan. Tanganku mulai mengelus dan sedikit meremas payudara Hesti, juga dari luar pakaiannya yang sengaja aku tidak berusaha melepaskannya.
“Tunggu, aku buka pakaianku dulu” kata Hesti sambil bangun untuk membuka pakaiannya
“Jangan biar aku yang membuka pakaianmu, kamu duduk aja. ” aku melarang Hesti untuk membuka pakaiananya dan aku yang membuka kaosnya, nampak kulit Hesti yang begitu mulus dan dua gundukan agak besar payudaranya nampak menantang sejenak aku cium belahannya sebelum aku buka branya kemudian aku lepas bra Hesti dan dua gunung yang tadi menggunung kini agak turun tapi masih menggairahkan akupun langsung menjilat sejenak kedua putingnya yang berwarna agak kecoklatan tanganku kini mengarah kekancing jeans Hesti, setelah terbuka aku langsung menariknya kebawah bersamaan dengan CDnya dan langsung memperlihatkan memek Hesti yang montok dan berbulu tidak tebal juga sejenak mencium memek Hesti dan aku membuka pakaianku semua dan kamipun sudah telanjang bulat. Terus terang baru kali ini aku melihat kemulusan tubuh Hesti. Payudaranya yang besar memang sudah tidak kencang lagi, maklum anaknya sudah 2, tapi yang aku kagum adalah perutnya yang tidak buncit layaknya ibu2 yang sudah beranak dan berbadan gemuk, bentuk pantatnya besar dan bulat demikian juga pahanya padat berisi.
“Kenapa bengong ? Yuk dikamar aja” Hesti menegurku sambil senyum dan memegang tanganku
“Jangan, disini aja dulu. Sekarang kamu duduk diujung sofa dan bersandar ” aku menyuruh Hesti dan dia mengikuti kataku dan dengan posisi ini memek Hesti lebih menonjol aku membungkuk mengelus memeknya sambil menjilati payudaranya bergantian, tangan Hestipun mengelus dan mengocok pelan burungku yang mulai tegang. Aku rentangkan kedua paha montok Hesti dan aku berlutut ditengahnya, kucium dan aku jilat2 sebentar pusar Hesti kemudian jilatanku turun ke sekitar jembutnya dan di selangkangannya.
…..hhh…geli Her…tapi terus , enak…… desahnya sambil tanganya mengelus rambutku. Lidahku mulai menjilat bibir memeknya kemudian clitnya, aku jilat sambil agak menekan dengan lidahku…..aaahhhh…..tangannya meremas rambutku sambil menaikan kedua kakinya di pinggir kursi mengangkat pantatnya sehingga memeknya lebih terbuka dan aku merasakan memeknya mulai becek sehingga terasa asin lidahku tapi ini membuat aku lebih bernafsu dan lidahku aku masukan kedalam memek Hesti membuat lendir memeknya semakin banyak meleleh saja dan lidahku semakin liar menjilati memek Hesti. Tiba2 Hesti berdiri dan aku disuruh duduk di lantai dan bersandar di sofa dan dia mendekatkan memeknya kearah mukaku sambil menaikan kaki kanannya ke sofa , tapi karena postur tubuhnya tinggi aku tidak sampai kalau posisiku duduk maka aku harus berlutut untuk menjilat memek Hesti. Akupun mulai mejilati memek Hesti sambil berlutut dan Hestipun lebih leluasa menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangi gerakan lidahku……
….terus jilat memeku Her terus….dan beberapa saat Hesti menekan kepalaku agak kuat sambil pantatnyapun ditekankan kearah mukaku kuat2 dan sesaat tubuhnya bergetar, akupun membantu menekan pantat Hesti dengan kedua tanganku sambil aku hisap2 clitnya……Heerrrr aku kluarr…………ssrtt, srrt….daguku yang agak masuk kememek Hesti merasakan ada lendir agak hangat mengalirinya. Tubuh gempal Hesti yang masih agak gemetar ambruk disofa dan akupun duduk disamping Hesti sambil merangkul dan mengelus rambutnya. “Baru kali ini aku keluar banyak begini, mungkin karena udah lama aku tahan2 ya Her” katanya, aku jawab dengan mencium bibirnya yang disambut Hesti dengan permainan lidahnya didalam mulutku dan akupun mengimbanginya.
Birahi Hestipun naik lagi kini dia lebih agresif, dadaku didorong hingga aku terlentang dan kepalaku bersandar ditangan2 sofa yang empuk, tangan nya langsung memegagang burungku yang ukurannya biasa2 saja karena panjangnya ga lebih dari 15 cm dan diarahkan kemulutnya dan Hestipun mulai menghisap dan menjilat burungku dan aku menahan kenikmatan sambil mengerang….hhhggghhh…..hhhggghhh………….k esiniin pantatmu Hes..dan Hestipun menyodorkan pantatnya yang bulat kearah mukaku, kaki kirinya tetap dilantai sedangkan kaki kanannya dinaikan ke sofa sambil mulutnya tidak melepaskan burungku dan kami melakukan posisi 69.
Beberapa menit kemudian kami ganti posisi Hesti ingin diatas tapi aku tidak mau yang biasa, aku langsung duduk agak melorot disofa dan Hesti langsung ambil posisi membelakangiku sambil memegang burungku dan mengarahkan ke memeknya….hhhh….hampi bersamaan kami mengeluarkan desahan saat burungku measuk ke memek Hesti yang sudah licin oleh lendir nafsunya. Hesti mulai menaik turunkan pantatnya dan dari belakang aku memegangi dan menikmati gerakan Hesti.
Saat aku menikmati gerakan Hesti tiba2 aku merasa ada tangan halus merangkulku dari belakang seorang wanita mencium pipiku, tentu saja aku sangat kaget karena ternyata itu adalah tante Rini,
” Aduuhh..lagi asyik kok ngga ngajak2 sih Hes ” katanya dan akupun langsung mendorong tubuh Hesti dan meraih pakaianku sekenanya dan menutupkannya keburungku, lebih kaget lagi ternyata tante Rini sudah tidak mengenakan pakaian lagi alias telanjang bulat, rupanya dia lewat pintu belakang yang bisa dimasuki lewat garasi dan diam2 menonton kami dari tadi dan rupanya sudah ngga tahan lagi. Hesti berbalik dan tersenyum saat melihat tantenya telanjang dan menghampirinya sambil mencium bibirnya aku makin bengong aja tapi agak tenang berarti ini aman
“Tante bikin kaget kami saja terutama Herry, ngga apa2 Her tante cuma mau ikutan, mampu kan kamu lawan kami berdua ? Biar lebih enak kita di kamar aja yuk ” tantang Hesti sambil senyum dan aku jawab ” mudah2an ”
Kamipun masuk kekamar tante Rini yang tempat tidurnya cukup gede dari belakang aku mengagumi tante Rini yang yang tingginya hanya sekitar 158 cm. Kulitnya putih mulus lebih putih dari Hesti pahanyapun berbentuk bagus walau mulai timbul kerutan, tadi sekilas aku juga melihat jembutnya yang sangat lebat melebar dan aku yakin kalau dia pakai CD ga bisa ketutup semua dan perutnya memang sedikit buncit tapi ditutupi karena kemulusan kulitnya dengan bentuk payudara yang sedang.
Sesaat aku berdiri karena masih agak kikuk dengan tante Rini dan terbaca oleh tante Rini dan dia yang menutupinya dengan mendekatiku sambil memeluk dan menarik leherku sehingga dia bisa mencium bibirku lembut dan memasukan lidahnya kemulutku, lebih nikmat dari Hesti dan ciumannya melorot kebawah dan dia berlutut sambil menghisap pelerku sedang tangannya meremas burungku pelan, rasa kikukupun hilang berganti dengan birahi yang naik apalagi tante Rini sudah mulai menghisap dan menjilat burungku dengan lembut jauh lebih nikmat dari Hesti.
Tanganku meraih Hesti yang langsung aku cium bibirnya dan tanganku mengelus2 memek Hesti.
……………………….sssshhh….hhhhh….ss sshhh…………….
Hanya itu yang keluar dari mulut kami bertiga saat itu. Beberapa menit kemudian posisi berubah kini aku memluk tante Rini dari belakang sambil menciumi tengkuknya tanganku terus mengelus memek dan payudaranya.
Sesaat minta tante Rini telungkup dikasur dan aku menciumi punggungnya tanganku mengelus pantat dan memeknya dari sela2 pantatnya serta pahanya yang terbuka dan saat tanganku mengelus lubang pantatnya aku merasakan disekitarnya ditumbuhi bulu2 halus tangankupun merasakan memek tante Rini sudah becek oleh lendirnya.
Posisiku agak menindih dari belakang tante Rini yang masih tengkurap, Hesti hanya duduk bersandar di bagian kepala tempat tidur melihat kami,
aku terus mencium dan menjilat punggung tante Rini terus melorot kepantatnya disini tante Rini agak mengangkat pantatnya setengah menungging, aku langsung menjilat memek dan lubang pantatnya dari belakang sambil berlutut dilantai “……….aaahhh….ssshh……sini memekmu Hes…..” tante Rini mengerang menahan nikmat jilatanku sambil meraih memek Hesti untuk dijilat. Hestipun menyodorkan memeknya untuk dijilat tante Rini yang sangat enak “aahh…enak tante…..sssshh” Hestipun mendesis kayak ular.
Dari mulutku aku merasakan memek tante Rini sudah sangat becek, kini aku berhenti menjilat memek tante Rini, aku mengarahkan burungku ke memek tante Rini dari belakang , pelan2 aku dorong masuk burungku kememek tante Rini yang sangat licin “……mmmhhh…..aaahhh……” sesaat tante Rini melepaskan jilatannya merasakan nikmat saat burungku masuk. Dengan penuh perasaan aku ayun maju mundur pantatku kadang aku tekan kuat2 sambil aku putar pantatku dan ini membuat tante Rini sering melepaskan jilatannya beberapa saat aku percepat ayunanku membuat tante Rini hanya memeluk erat Hesti dan saat aku tekan dan putar pantatku tante Rini langsung bergetar tangannya memeluk Hesti kuat2 dan mukanya dibenamkan ke memek Hesti “…….mmmmmmmhhh…..” terdengar erangan panjang tante Rini dan burungku merasa ada cairan hangat menyiramnya. Tante Rini orgasme. Aku masih bisa bertahan. Tante Rini langsung tergeletak aku telentang dikasur dan meminta Hesti berada diatas. Hestipun sudah sangat terangsang karena dijilat tante Rini sambil menonton kami. Gerakan Hestipun langsung liar menaik turunkan pantatnya membuat pertahananku hampir jebol aku tahan terus karena aku harus memuaskan 2 wanita ini, rupanya tante Rini sudah puli lagi dan dia langsung mengangkangkan memeknya kearah mulutku yang tentu saja langsung aku jilat, becek sekali memek tante Rini, Dua wanita sekaligus berada diatasku.
Gerakan Hesti semakin cepat demikian juga tante Rini yang aku jilati memeknya iapun mengrekan pantatnya semakin cepat.
” …..aaaahh…..Herrr…..” Hesti dan tante Rini hampir bersamaan mengerang dan menggoyang menekankan pantat mereka kuat2, yang satu kearah burungku sedang yang lain kemulutku, akibatnya pertahanankupun jebol, aku cengkram paha tante Rini dan “cret..cret…cret” spermaku nyemprot ke dalam memek Hesti banyak sekali sampai mengalir kembali ke jembutku.
Hening sesaat. “Gila, gila kamu Her kami bisa kalah” komentar tante Rini
“Ah pas lagi fisik bagus saja tante saya bisa begini” jawabku basa basi.
Akupun menciumi mereka satu2.
Sore aku baru pulang kerumah istirahat sebentar malamnya giliran istri minta
” Herry ?! ” salah seorang dari mereka menegurku. Akupun memandang salah seorang dari mereka yang berbadan besar, tingginya sekitar 170 cm, lebih tinggi dari aku yang cuma 165 cm, posturnya mirip penyanyi Denada hanya dia lebih putih, wajahnya tidak terlalu cantik.
” Hesti ?! ” aku setengah bertanya
” Ya, aku Hesti ” jawab si cewek tadi dan kamipun bersalaman ” Oh ya kenalin ini tante Rini adik papiku ”
” Herry ” kataku sambil menyalami wanita disamping Hesti yang berumur sekitar 45 tahin tapi kulitnya masih putih mulus.
Hesti adalah teman SMA ku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah dan dia
adalah atlet bulutangkis wanita di daerahku. Prestasinya lumayan, sering
juara ditingkat Karesidenan. Kami adalah teman akrab dan kami saling
curhat walau tidak pacaran. Hesti sering curhat tentang pacarnya yang
sekarang jadi suaminya, kalau aku semasa SMA memang menjomblo.
” Tinggal dimana kamu sekarang Her ” tanya Hesti.
” Di daerah Kalimalang dan kamu ngapain di Jakarta ? ” aku balas bertanya
” Aku baru ngantar suamiku yang lagi ke Thailand bareng suami tante Rini. Datangnya sih masih seminggu lagi. Rencana aku nunggu dia sampai pulang dan aku selama disini aku tinggal dirumah tante Rini di Cipinang, mampir dong Her nih alamatnya ” Jelas Hesti menulis alamat tante Rini dan disodorkan ke aku
” Ok nanti aku mampir, eh ayo makan dulu aku udah lapar nih ” aku mengajak mereka makan.
” Kami baru saja selesai makan. Ok deh kami mau jalan dulu, aku tunggu lho Her ” Tolak Hesti sambil pamit dan pergi.
” Di daerah Kalimalang dan kamu ngapain di Jakarta ? ” aku balas bertanya
” Aku baru ngantar suamiku yang lagi ke Thailand bareng suami tante Rini. Datangnya sih masih seminggu lagi. Rencana aku nunggu dia sampai pulang dan aku selama disini aku tinggal dirumah tante Rini di Cipinang, mampir dong Her nih alamatnya ” Jelas Hesti menulis alamat tante Rini dan disodorkan ke aku
” Ok nanti aku mampir, eh ayo makan dulu aku udah lapar nih ” aku mengajak mereka makan.
” Kami baru saja selesai makan. Ok deh kami mau jalan dulu, aku tunggu lho Her ” Tolak Hesti sambil pamit dan pergi.
” Kok sepi, mana tante Rini ama pembantu? ” tanyaku karena hanya Hesti yang dirumah.
” Oh dia lagi ke Bogor sama tetangga kalau disini ngga ada pembantu ” jawabnya. Kamipun ngobrol bernostalgia, maklum kami sudah sekitar 14 tahun ngga ketemu
“Ngomong2 berat badanmu naik berapa kilo Hes ?” tanyaku karena aku ngga bisa menahan rasa penasaran melihat perubahan bentuk tubuh Hesti.
” Dari masa SMA naik 12 kilo sekarang beratku 62 kg he..he..” jawabnya sambil ketawa lepas.
” Wow gile… untung kamu tinggi dan kamu rajin olah raga. tapi sekarang lebih kelihatan sangat sexy lho Hes ” pujiku
” Makanya suamiku ngga mau cari yang lain ” jawab Hesti
” Emang suamimu masih kuat lawan kamu di ranjang ? ” tanyaku memancing, karena aku tahu usia suaminya lebih tua 11 tahun.
” Kalau cuma seminggu sekali sih dia masih kuat cuma 2 tahun belakangan dia terkena diabetes makanya dia mulai jarang. Akunya yang sering pusing2, makanya aku sering marah2 sendiri. Terus terang saja Her terakhir kali kami berhubungan 3 minggu lalu itupun ngga tuntas karena dia ngga kuat. Dia sering begitu Her, tiba2 burungnya turun dan ngga bisa berdiri lagi, aku sering kasihan sama dia ” keluh Hesti .
” Ya itulah salah satu efek dari penyakit gula Hes, terus kamu sendiri bagaimana mengatasinya ? ” tanyaku
” Terpaksa aku sering masturbasi tapi lama2 bosan, Her kamu mau tolongin aku ngga Her ? ” tanya Hesti sambil duduknya pindah ke sofa panjang yang aku duduki.
“Kamu minta tolong apa Hes ?” aku balik bertanya
Hesti terdiam sejenak, dia meraih tangan kananku dan kemudian dicium, tiba2 dia memelukku “Kamu mau melakukan sama aku kan Her” bisiknya. Aku mengangguk dan terus memeluk Hesti sambil mencium pipinya. Sejenak kami perpandangan dan saling melemparkan senyum kemudian bibir kamipun berciuman “Puasi aku Her..” agak serak suara Hesti mengatakannya aku tidak menjawab hanaya tanganku membimbing tubuh gempal Hesti terlentang di sofa dan aku berlutut di sampingnya. Aku mulai mencium bibirnya sambil membelai rambutnya. Ciumanku bergeser ke arah belakang telinga Hesti dan aku menjilatnya lembut. ……ssssshhh….mulut Hesti mengeluaran desisan pelan sambil tangannya meremas2 lembut burungku yang mulai naik dari luar celana yang masih aku kenakan. Tanganku mulai mengelus dan sedikit meremas payudara Hesti, juga dari luar pakaiannya yang sengaja aku tidak berusaha melepaskannya.
“Tunggu, aku buka pakaianku dulu” kata Hesti sambil bangun untuk membuka pakaiannya
“Jangan biar aku yang membuka pakaianmu, kamu duduk aja. ” aku melarang Hesti untuk membuka pakaiananya dan aku yang membuka kaosnya, nampak kulit Hesti yang begitu mulus dan dua gundukan agak besar payudaranya nampak menantang sejenak aku cium belahannya sebelum aku buka branya kemudian aku lepas bra Hesti dan dua gunung yang tadi menggunung kini agak turun tapi masih menggairahkan akupun langsung menjilat sejenak kedua putingnya yang berwarna agak kecoklatan tanganku kini mengarah kekancing jeans Hesti, setelah terbuka aku langsung menariknya kebawah bersamaan dengan CDnya dan langsung memperlihatkan memek Hesti yang montok dan berbulu tidak tebal juga sejenak mencium memek Hesti dan aku membuka pakaianku semua dan kamipun sudah telanjang bulat. Terus terang baru kali ini aku melihat kemulusan tubuh Hesti. Payudaranya yang besar memang sudah tidak kencang lagi, maklum anaknya sudah 2, tapi yang aku kagum adalah perutnya yang tidak buncit layaknya ibu2 yang sudah beranak dan berbadan gemuk, bentuk pantatnya besar dan bulat demikian juga pahanya padat berisi.
“Kenapa bengong ? Yuk dikamar aja” Hesti menegurku sambil senyum dan memegang tanganku
“Jangan, disini aja dulu. Sekarang kamu duduk diujung sofa dan bersandar ” aku menyuruh Hesti dan dia mengikuti kataku dan dengan posisi ini memek Hesti lebih menonjol aku membungkuk mengelus memeknya sambil menjilati payudaranya bergantian, tangan Hestipun mengelus dan mengocok pelan burungku yang mulai tegang. Aku rentangkan kedua paha montok Hesti dan aku berlutut ditengahnya, kucium dan aku jilat2 sebentar pusar Hesti kemudian jilatanku turun ke sekitar jembutnya dan di selangkangannya.
…..hhh…geli Her…tapi terus , enak…… desahnya sambil tanganya mengelus rambutku. Lidahku mulai menjilat bibir memeknya kemudian clitnya, aku jilat sambil agak menekan dengan lidahku…..aaahhhh…..tangannya meremas rambutku sambil menaikan kedua kakinya di pinggir kursi mengangkat pantatnya sehingga memeknya lebih terbuka dan aku merasakan memeknya mulai becek sehingga terasa asin lidahku tapi ini membuat aku lebih bernafsu dan lidahku aku masukan kedalam memek Hesti membuat lendir memeknya semakin banyak meleleh saja dan lidahku semakin liar menjilati memek Hesti. Tiba2 Hesti berdiri dan aku disuruh duduk di lantai dan bersandar di sofa dan dia mendekatkan memeknya kearah mukaku sambil menaikan kaki kanannya ke sofa , tapi karena postur tubuhnya tinggi aku tidak sampai kalau posisiku duduk maka aku harus berlutut untuk menjilat memek Hesti. Akupun mulai mejilati memek Hesti sambil berlutut dan Hestipun lebih leluasa menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangi gerakan lidahku……
….terus jilat memeku Her terus….dan beberapa saat Hesti menekan kepalaku agak kuat sambil pantatnyapun ditekankan kearah mukaku kuat2 dan sesaat tubuhnya bergetar, akupun membantu menekan pantat Hesti dengan kedua tanganku sambil aku hisap2 clitnya……Heerrrr aku kluarr…………ssrtt, srrt….daguku yang agak masuk kememek Hesti merasakan ada lendir agak hangat mengalirinya. Tubuh gempal Hesti yang masih agak gemetar ambruk disofa dan akupun duduk disamping Hesti sambil merangkul dan mengelus rambutnya. “Baru kali ini aku keluar banyak begini, mungkin karena udah lama aku tahan2 ya Her” katanya, aku jawab dengan mencium bibirnya yang disambut Hesti dengan permainan lidahnya didalam mulutku dan akupun mengimbanginya.
Birahi Hestipun naik lagi kini dia lebih agresif, dadaku didorong hingga aku terlentang dan kepalaku bersandar ditangan2 sofa yang empuk, tangan nya langsung memegagang burungku yang ukurannya biasa2 saja karena panjangnya ga lebih dari 15 cm dan diarahkan kemulutnya dan Hestipun mulai menghisap dan menjilat burungku dan aku menahan kenikmatan sambil mengerang….hhhggghhh…..hhhggghhh………….k esiniin pantatmu Hes..dan Hestipun menyodorkan pantatnya yang bulat kearah mukaku, kaki kirinya tetap dilantai sedangkan kaki kanannya dinaikan ke sofa sambil mulutnya tidak melepaskan burungku dan kami melakukan posisi 69.
Beberapa menit kemudian kami ganti posisi Hesti ingin diatas tapi aku tidak mau yang biasa, aku langsung duduk agak melorot disofa dan Hesti langsung ambil posisi membelakangiku sambil memegang burungku dan mengarahkan ke memeknya….hhhh….hampi bersamaan kami mengeluarkan desahan saat burungku measuk ke memek Hesti yang sudah licin oleh lendir nafsunya. Hesti mulai menaik turunkan pantatnya dan dari belakang aku memegangi dan menikmati gerakan Hesti.
Saat aku menikmati gerakan Hesti tiba2 aku merasa ada tangan halus merangkulku dari belakang seorang wanita mencium pipiku, tentu saja aku sangat kaget karena ternyata itu adalah tante Rini,
” Aduuhh..lagi asyik kok ngga ngajak2 sih Hes ” katanya dan akupun langsung mendorong tubuh Hesti dan meraih pakaianku sekenanya dan menutupkannya keburungku, lebih kaget lagi ternyata tante Rini sudah tidak mengenakan pakaian lagi alias telanjang bulat, rupanya dia lewat pintu belakang yang bisa dimasuki lewat garasi dan diam2 menonton kami dari tadi dan rupanya sudah ngga tahan lagi. Hesti berbalik dan tersenyum saat melihat tantenya telanjang dan menghampirinya sambil mencium bibirnya aku makin bengong aja tapi agak tenang berarti ini aman
“Tante bikin kaget kami saja terutama Herry, ngga apa2 Her tante cuma mau ikutan, mampu kan kamu lawan kami berdua ? Biar lebih enak kita di kamar aja yuk ” tantang Hesti sambil senyum dan aku jawab ” mudah2an ”
Kamipun masuk kekamar tante Rini yang tempat tidurnya cukup gede dari belakang aku mengagumi tante Rini yang yang tingginya hanya sekitar 158 cm. Kulitnya putih mulus lebih putih dari Hesti pahanyapun berbentuk bagus walau mulai timbul kerutan, tadi sekilas aku juga melihat jembutnya yang sangat lebat melebar dan aku yakin kalau dia pakai CD ga bisa ketutup semua dan perutnya memang sedikit buncit tapi ditutupi karena kemulusan kulitnya dengan bentuk payudara yang sedang.
Sesaat aku berdiri karena masih agak kikuk dengan tante Rini dan terbaca oleh tante Rini dan dia yang menutupinya dengan mendekatiku sambil memeluk dan menarik leherku sehingga dia bisa mencium bibirku lembut dan memasukan lidahnya kemulutku, lebih nikmat dari Hesti dan ciumannya melorot kebawah dan dia berlutut sambil menghisap pelerku sedang tangannya meremas burungku pelan, rasa kikukupun hilang berganti dengan birahi yang naik apalagi tante Rini sudah mulai menghisap dan menjilat burungku dengan lembut jauh lebih nikmat dari Hesti.
Tanganku meraih Hesti yang langsung aku cium bibirnya dan tanganku mengelus2 memek Hesti.
……………………….sssshhh….hhhhh….ss sshhh…………….
Hanya itu yang keluar dari mulut kami bertiga saat itu. Beberapa menit kemudian posisi berubah kini aku memluk tante Rini dari belakang sambil menciumi tengkuknya tanganku terus mengelus memek dan payudaranya.
Sesaat minta tante Rini telungkup dikasur dan aku menciumi punggungnya tanganku mengelus pantat dan memeknya dari sela2 pantatnya serta pahanya yang terbuka dan saat tanganku mengelus lubang pantatnya aku merasakan disekitarnya ditumbuhi bulu2 halus tangankupun merasakan memek tante Rini sudah becek oleh lendirnya.
Posisiku agak menindih dari belakang tante Rini yang masih tengkurap, Hesti hanya duduk bersandar di bagian kepala tempat tidur melihat kami,
aku terus mencium dan menjilat punggung tante Rini terus melorot kepantatnya disini tante Rini agak mengangkat pantatnya setengah menungging, aku langsung menjilat memek dan lubang pantatnya dari belakang sambil berlutut dilantai “……….aaahhh….ssshh……sini memekmu Hes…..” tante Rini mengerang menahan nikmat jilatanku sambil meraih memek Hesti untuk dijilat. Hestipun menyodorkan memeknya untuk dijilat tante Rini yang sangat enak “aahh…enak tante…..sssshh” Hestipun mendesis kayak ular.
Dari mulutku aku merasakan memek tante Rini sudah sangat becek, kini aku berhenti menjilat memek tante Rini, aku mengarahkan burungku ke memek tante Rini dari belakang , pelan2 aku dorong masuk burungku kememek tante Rini yang sangat licin “……mmmhhh…..aaahhh……” sesaat tante Rini melepaskan jilatannya merasakan nikmat saat burungku masuk. Dengan penuh perasaan aku ayun maju mundur pantatku kadang aku tekan kuat2 sambil aku putar pantatku dan ini membuat tante Rini sering melepaskan jilatannya beberapa saat aku percepat ayunanku membuat tante Rini hanya memeluk erat Hesti dan saat aku tekan dan putar pantatku tante Rini langsung bergetar tangannya memeluk Hesti kuat2 dan mukanya dibenamkan ke memek Hesti “…….mmmmmmmhhh…..” terdengar erangan panjang tante Rini dan burungku merasa ada cairan hangat menyiramnya. Tante Rini orgasme. Aku masih bisa bertahan. Tante Rini langsung tergeletak aku telentang dikasur dan meminta Hesti berada diatas. Hestipun sudah sangat terangsang karena dijilat tante Rini sambil menonton kami. Gerakan Hestipun langsung liar menaik turunkan pantatnya membuat pertahananku hampir jebol aku tahan terus karena aku harus memuaskan 2 wanita ini, rupanya tante Rini sudah puli lagi dan dia langsung mengangkangkan memeknya kearah mulutku yang tentu saja langsung aku jilat, becek sekali memek tante Rini, Dua wanita sekaligus berada diatasku.
Gerakan Hesti semakin cepat demikian juga tante Rini yang aku jilati memeknya iapun mengrekan pantatnya semakin cepat.
” …..aaaahh…..Herrr…..” Hesti dan tante Rini hampir bersamaan mengerang dan menggoyang menekankan pantat mereka kuat2, yang satu kearah burungku sedang yang lain kemulutku, akibatnya pertahanankupun jebol, aku cengkram paha tante Rini dan “cret..cret…cret” spermaku nyemprot ke dalam memek Hesti banyak sekali sampai mengalir kembali ke jembutku.
Hening sesaat. “Gila, gila kamu Her kami bisa kalah” komentar tante Rini
“Ah pas lagi fisik bagus saja tante saya bisa begini” jawabku basa basi.
Akupun menciumi mereka satu2.
Sore aku baru pulang kerumah istirahat sebentar malamnya giliran istri minta




0 komentar:
Posting Komentar